Archive from Januari, 2013
Jan 29, 2013 - KESEHATAN    No Comments

UJI COBA IMPLEMENTASI ISO 9001:2000 BERPENGARUH TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS LAYANAN PUSKESMAS KAMPUNG DELIMA”

PENELITIAN

 

UJI COBA IMPLEMENTASI ISO 9001:2000 BERPENGARUH TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS LAYANAN PUSKESMAS KAMPUNG DELIMA”

Oleh :

SUDIRTO,SKM.M.Kes

Nip; 19660506 198903 1 010

PEMERINTAH KABUPATEN REJANG LEBONG

DINAS KESEHATAN

PUSKESMAS KAMPUNG DELIMA

TAHUN 2013

 

 

RESEARCH
THE TRIAL IMPLEMENTATION OF ISO 9001:2000 EFFECT ON IMPROVING THE QUALITY OF PUBLIC HEALTH SERVICES KAMPUNG DELIMA.

Abstract

Background: The results of opinion polls Jakarta Health Department information center (in 2000), it is known that one of the factors most often complained of by the patient is slow in providing health care personnel, both at the time of the patient register at the counter up with examination and prescription. Monitoring results Health Information Center (PIK) note that for one patient at the health center takes 10 minutes waiting at the counter, in the examination room 15 to 20 minutes and place regular prescriptions reaches 15 minutes, so for one patient visit takes 45 minutes to 1 hour. Once implemented ISO 9001:2000 is there an increase in Kampung Delima waitress at the health center
Methods: In this study the authors used a quantitative approach in which the study was conducted only descriptive that provides an overview of the issues to be studied in the form of numbers. This approach is used because in accordance with the object and the subject matter to be studied that require the observation and careful and thorough understanding of the research object. Research done at the health center in October 2012 in the village of Pomegranates
Results: During the study done in October apple pagidihadiri average of 75% of all employees in the health center Kampung Delima long while at Poly Public Services: From the results of the card  control of the 4th october to 3 november 2012 then acquired The average patient has been underserved for 2.6 minutes
Analysis of Results: 1. Apples Morning, During the research done in October morning assembly attended by an average of 75% of all employees in the health center Kampung Delima. It is still low when compared with the target to be achieved by an average of 90% of employee health center Kampung Delima, the policies that have been agreed with the existence of a fine of Rp 5,000 per day for employees who  8 times did not early apples. 2. Long service in the Public Poli, From the control cards from 4 October to 3 november 2012 then earned an average patient has been underserved for 2.6 minutes, it is all very well as a standard by ISO that the length of service in the Public Poli is of ≤ 7 minutes. Many things affect the speeds in Kampung Delima services in health centers, among others: 1. The division of tasks to every officer in the Public Poli include any officials anamnesis, measuring the patient’s blood pressure, writing in a register; 2. The waiter immediately implemented after the morning assembly; 3. For inspection and pengopbatan performed by a doctor, if there are no doctors conducted by the senior nurse in the health center Kampung Delima; 4.Dalam ministry officials prioritize services to patients of the opening sms or open facebook on Hp except when there are no patients, 5 . Each patient was examined immediately so there is no buildup of patient
Conclusion: for the village health center Pomegranates Apples am yet to meet the ISO 9001:2000 standard is 90% of employees following the morning assembly while the service is able to meet the ISO 9001:2000 standard

Keywords; ISO 9001:2000

KATA PENGANTAR

            Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat serta karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul, ” Uji coba implementasi ISO 9001:2000 berpengaruh terhadap peningkatan kualitas layanan Puskesmas Kampung Delima”

Penelitian ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk menambah penilaian angka kredit point.

Dalam menyelesaikan Penelitian ini, peneliti telah banyak memperoleh bantuan secara moril maupun materil dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada :

  1. Pimpinan Puskesmas Kampung Delima yang telah memberikan beberapa kemudahan khususnya dalam pembuatan penulisan penelitian ini.
  2. Semua Teman-teman yang ada di PKM Kampung Delima

Semoga Allah memberikan rahmat dan hidayah-Nya atas budi baik yang telah diberikan kepada penulis.

Penulis menyadari penelitian ini masih jauh dari sempurna, hal ini diakibatkan oleh keterbatasan pengetahuan, literatur dan sarana yang penulis miliki. Penulis akan selalu terbuka terhadap saran dan masukan yang akan membantu penyempurnaan Penelitian ini.

Semoga Penelitian  ini bermanfaat bagi pembacanya.

                                                                          Curup ,     10 Desember 2012

                Penulis

KATA SAMBUTAN

Saya selaku Pimpinan Puskesmas Kampung Delima, pada kesempatan ini ingin mengucapkan Terima Kasih kepada peneliti yang mana telah melakukan penelitian yang diberi judul, ” Uji coba implementasi ISO 9001:2000 berpengaruh terhadap peningkatan kualitas layanan Puskesmas Kampung Delima”

Penelitian ini sangat bermanfaat bagi Puskesmas untuk mengetahui apakah ada peningkatan pelayanan setelah penerapan uji coba  ISO 9001:2000

Dengan uji coba ini diharapkan akan meningkatkan mutu pelayanan kepada pasien sehingga merasa nyaman selama pelayan di Puskesmas Kampung Delima.

Sekali lagi saya selaku pimpinan mengucapkan banyak terima kasih.

 

Kampung Delima, 10 desember 2012

PIMPINAN PUSKESMAS

BAHRI NASER, S.KEP

Nip.197303261994021001

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

         halaman

HALAMAN JUDUL ………………………………………………………            i

ABSTRAK…………………………………………………………………ii

KATA PENGANTAR ……………………………………………………iii

KATA SAMBUTAN………………………………………………………iv

DAFTAR ISI ………………..…………………………………………………. v

 

BAB I PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang ……………………………………………………….    1

1.2  Rumusan Masalah ……………………………………………………    5

1.3Tujuan Penelitian …………………………………………………….     6

1.4  Manfaat Penelitian……………………………………………………     6

 

BAB II Tinjauan Pustaka

2.1  Uraian Teoritis……………………………………………..………..     7

2.2  Konsep Puskesmas……………………………………………..……     16

2.3  Kualitas Pelayanan……………………………………………………     18

2.4  Penelitian Terdahulu…………………………………………………     23

2.5  Kerangka Konseptual……………………………..………………….    25

2.6  Hipotesis……… ……………………………………………………..    26

 

BAB III Metode Penelitian

3.1  Waktu dan Lokasi Penelitian…………………………………………    27

3.2  Tipe dan Dasar Penelitian…………………………………………….    27

3.3  Unit Analisis …………………………………………………………   27

3.4  Teknik Pengumpulan Data……………………………………………    27

3.5  Jenis dan Sumber Data………………………………………………..   28

3.6  Populasi dan sampel…….. …………………………………….…….    28

3.7  Definisi Operasional…………………………………………………..   29

3.8  Teknik Analisis Data…………………………………………………    30

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Puskesmas…………………………………………   32

4.2 Hasil Penelitian……………………………………………………….    41

4.3 Analisa Hasil Penelitian………………………………………………    43

 

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN……………………………………           44

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………..            45

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Pelayanan publik merupakan tanggungjawab pemerintah dan dilaksanakan oleh instansi pemerintah, baik itu di pusat, di Daerah, dan dilingkungan Badan Usaha Milik Negara. Pelayanan publik berbentuk pelayanan barang publik maupun pelayanan jasa.

Dewasa ini Masyarakat semakin terbuka dalam memberikan kritik bagi pelayanan publik. Oleh sebab itu substansi administrasi sangat berperan dalam mengatur dan mengarahkan seluruh kegiatan organisasi pelayanan dalam mencapai tujuan.

Salah satu bentuk pelayanan publik yang dilaksanakan oleh pemerintah adalah pemenuhan kebutuhan kesehatan masyarakat. Reformasi dibidang kesehatan dilaksanakan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dan menjadikannya lebih efisien, efektif serta dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Seperti yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 951/Menkes/SK/VI/2000 yaitu bahwa “tujuan pembangunan kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal”.

Dengan meningkatnya tingkat pendidikan dan keadaan sosial dalam masyarakat maka, meningkat pula kesadaran akan arti hidup sehat dan keadaaan tersebut menyebabkan tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang bermutu, nyaman dan berorientasi pada kepuasan konsumen semakin mendesak dimana diperlukan kinerja pelayanan yang 2 tinggi. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah pada Bab IV pasal 11 ayat (2) ditetapkan bahwa bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota adalah pekerjaan umum, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan, pertanian, perhubungan, industry dan perdagangan, penanaman modal, lingkungan hidup, pertanahan, koperasi, dan tenaga kerja. Berdasarkan undang-undang tersebut, bidang kesehatan menempati urutan kedua (setelah bidang pekerjaan umum) dari bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh pemerintah daerah kabupaten dan kota. Ini berarti bahwa dalam rangka Otonomi Daerah, Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota bertanggung jawab sepenuhnya dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di wilayahnya, dengan memberikan pelayanan yang memuaskan.

Adapaun proses pelayanan kesehatan dan kualitas pelayanan berkaitan dengan ketersediaan sarana kesehatan yang terdiri dari pelayanan kesehatan dasar (Puskesmas, Balai Pengobatan), pelayanan rujukan (rumah sakit), ketersediaan tenaga kesehatan, peralatan dan obat-obatan.

Kinerja pelayanan menyangkut hasil pekerjaan, kecepatan kerja, pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan harapan pelanngan, dan ketepatan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan.

Pemerintah telah berusaha memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan dengan mendirikan Rumah Sakit dan Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS) di seluruh wilayah Indonesia. Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten / kota 3 yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja tertentu. Puskesmas berfungsi sebagai :

1. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan .

2. Pusat pemberdayaan keluarga dan masyarakat.

3. Pusat pelayanan kesehatan strata pertama.

Namun, sampai saat ini usaha pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan kesehatan masih belum dapat memenuhi harapan masyarakat. Banyak anggota masyarakat yang mengeluh dan merasa tidak puas dengan pelayanan yang diberikan oleh Puskesmas milik pemerintah ini baik itu dari segi pemeriksaan yang kurang diperhatikan oleh petugas kesehatan, lama waktu pelayanan, keterampilan petugas, sarana/fasilitas, serta waktu tunggu untuk mendapatkan pelayanan.

Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS) sebagai salah satu sarana kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat memiliki peran yang sangat strategis dalam mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Oleh karena itu Puskesmas dituntut untuk memberikan pelayanan yang bermutu yang memuaskan bagi pasiennya sesuai dengan standar yang ditetapkan dan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakatnya.

Salah satu keluhan yang sering terdengar dari masyarakat yang berhubungan dengan aparatur pemerintah adalah selain berbelit–belit akibat birokrasi yang kaku, perilaku oknum aparatur yang kadang kala kurang bersahabat, juga kinerja pegawai dalam memberikan pelayanan dalam hal ini ketepatan waktu dalam memberikan pelayanan, kuantitas dan kualitas pelayanan yang masih sangat rendah. 4 Rendahnya kinerja pelayanan akan membangun citra buruk pada Puskesmas, dimana pasien yang merasa tidak puas akan menceritakan kepada rekan-rekannya. Begitu juga sebaliknya, semakin tinggi kinerja pelayanan yang diberikan akan menjadi nilai plus bagi Puskesmas, dalam hal ini pasien akan merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan oleh Puskesmas.

Puskesmas dapat mengetahui kinerja pelayanan dari para pasien melalui umpan balik yang diberikan pasien kepada Puskesmas tersebut sehingga dapat menjadi masukan untuk peningkatan kinerja pelayanan.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Sudiro (2001) di beberapa Puskesmas di daerah Jakarta diketahui bahwa pada umumnya pasien mengeluh dengan antrian pada saat pengurusan administrasi yang mampu mencapai 15 sampai 20 menit. Hal ini merupakan salah satu penyebab rendahnya jumlah kunjungan di Puskesmas.

Hasil poling pendapat pusat informasi Departemen Kesehatan Jakarta (Tahun 2000), diketahui bahwa salah satu faktor yang paling sering dikeluhkan oleh pasien adalah lambatnya petugas dalam memberikan pelayanan kesehatan, baik itu pada saat pasien mendaftar di loket sampai dengan pemeriksaan dan pengambilan resep. Hasil pemantauan Pusat Informasi Kesehatan (PIK) diketahui bahwa untuk satu orang pasien di Puskesmas dibutuhkan waktu tunggu di loket 10 menit, di ruang periksa 15 sampai 20 menit dan ditempat resep biasa mencapai 15 menit, jadi untuk satu kali kunjungan pasien membutuhkan waktu 45 menit sampai 1 jam.

Puskesmas Kampung Delima adalah salah satu Puskesmas pemerintah di Kota Kabupaten Rejang Lebong. Salah satu cara untuk mecapai derajat kesehatan yang optimal yang dapat  memuaskan bagi pasien adalah dengan adanya pelayanan yang baik yang diberikan oleh pegawai oleh sebab itu dituntut kinerja yang tinggi dari pegawai. Kinerja pelayanan pada Puskesmas Kampung Delima masih belum sesuai dengan keinginan masyarakat karena masih seringnya terdengar keluhan pasien maupun keluarganya dimana masih seringnya pegawai Puskesmas yang lambat dalam memberikan pelayanan, pasien sering menunggu lama untuk mendapatkan giliran dilayanani oleh pegawai. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan memilih judul, “ Uji coba implementasi ISO 9001:2000 berpengaruh terhadap peningkatan kualitas layanan Puskesmas Kampung Delima”

I.2 Rumusan Masalah

Bertolak dari latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan, apakah Uji coba implementasi ISO 9001:2000 berpengaruh terhadap peningkatan kualitas layanan Puskesmas Kampung Delima”

 

 

I.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan pokok permasalahan yang ada, tujuan penelitian ini yaitu untuk menggambarkan kinerja pelayanan Puskesmas Kampung Delima baik dari segi kuantitas dan ketepatan waktu penyelesaian pekerjaan.

I.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dalam penelitian ini mengarah kepada aspek berikut :

1. Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi civitas akademik mengenai tingkat kinerja pelayanan pada Puskesmas Batua Makassar.

2. Puskesmas

Secara praktis, penelitian ini bermanfaat untuk memberikan masukan kepada pelayan publik dalam hal ini pihak manajemen organisasi atau perusahaan tentang pandangan masyarakat terhadap kinerja pelayanan selama ini sehingga pelayan publik dapat memperbaiki atau meningkatkan kinerja pelayanan sesuai dengan harapan masyarakat.

3.  Dinas Kesehatan

Sebagai masukan untuk mengambil kebijakan khususnya yang berkenaan dengan peningkatan mutu untuk puskesmas

 

 

 

 

 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Uraian Teoritis

2.1.1. International Organization for Standardization (ISO)

1. Pengertian ISO (International Organization for Standardization)

ISO 9001:2000 adalah suatu standar internasional untuk sistem manajemen mutu. ISO 9001:2000 menetapkan persyaratan-persyaratan dan rekomendasi untuk desain dan penilaian dari suatu sistem manajemen mutu, yang bertujuan untuk menjamin bahwa organisasi akan memberikan produk (barang atau jasa) yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Persyaratan-persyaratan yang ditetapkan ini dapat merupakan kebutuhan dari pasar tertentu, sebagaimana ditentukan oleh organisasi.

ISO 9001:2000 bukan merupakan standar produk, karena tidak menyatakan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh produk (barang atau jasa). Tidak ada kriteria penerimaan produk dalam ISO 9001:2000, sehingga kita tidak dapat menginspeksi suatu produk terhadap standar-standar produk. ISO 9001:2000 hanya merupakan standar sistem manajemen mutu. Dengan demikian apabila ada perusahaan yang mengiklankan bahwa produknya telah memenuhi standar internasional, itu merupakan hal yang salah dan keliru, karena seyogianya manajemen perusahaan hanya boleh menyatakan standar internasional, karena tidak ada kriteria pengujian produk dalam ISO 9001:2000. Bagaimanapun diharapkan, meskipun tidak selalu, bahwa produk yang dihasilkan dari suatu sistem manajemen mutu internasional akan bermutu baik (standar). Persyaratan-persyaratan dan rekomendasi dalam ISO 9001:2000 diterapkan pada manajemen organisasi yang memasok produk, sehingga akan mempengaruhi bagaimana produk itu didesain, diproduksi, dirakit, ditawarkan dan lain-lain.

The International Organization for Standardization (IS0) Technical Committee (TC) 176 bertanggung jawab untuk standar-standar sistem manajemen mutu ISO 9000 (www.iso.ch). Sejak pertama kali dikeluarkan standar-standar ISO 9000 pada tahun 1987, ISO/TC 176 menetapkan siklus peninjauan ulang setiap lima tahun, guna menjamin bahwa standar-standar ISO 9000 akan menjadi up to date dan relevan untuk organisasi. Revisi terhadap standar ISO 9000 telah dilakukan pada tahun 1994 dan tahun 2000. Dengan demikian standar ISO 9000 yang terbaru adalah ISO 9000 Versi Tahun 2000. ISO 9000 Versi Tahun 2000 mencakup beberapa seri berikut:

a. ISO 9000:2000 QMS Fundamentals and Vocabulary Replacing ISO 8402 and ISO 9001.

b. ISO 9001:2000 QMS Requirements Replacing the 1994 Versions of ISO 9001, 9002 and 9003.

c. ISO 9004: 2000 QMS Guidance for Performance Improvement Replacing ISO 9004 with Most Parts.

d. ISO 19011 Guidance for Auditing Management Systems Replacing ISO 10011 and 14011.

Perubahan yang signifikan dalam ISO 9001 Versi tahun 2000 (ISO 9001: 2000) dibandingkan dengan ISO 9001 Versi tahun 1994 (ISO 9001:1994) adalah penggantian 20 elemen standar menjadi suatu model proses seperti skema berikut:

Gambar 2.1 ini menjelaskan bahwa pelanggan yang telah memenuhi persyaratan standar sistem manajemen mutu melakukan realisasi produk melalui pengukuran, analisis dan perbaikan kemudian adanya tanggung jawab perusahaan setelah itu dilakukan pengelolaan sumber daya sehingga realisasi produk dapat terwujud dan selalu dalam tahap yang berkesinambungan dan menghasilkan produk yang pada akhirnya memberikan kepuasan bagi pelanggan. Dibandingkan ISO 9001:1994, banyak persyaratan standar yang diganti, dikurangi dan direvisi serta terdapat pula beberapa persyaratan standar yang ditambahkan ke dalam ISO 9001:2000.

2. Langkah-Langkah Membangun dan Mengembangkan Sistem Manajemen Mutu

Definisi dari Standar ISO 9000 untuk sistem manajemen mutu (Quality Management System, QMS) adalah struktur organisasi, tanggung jawab, prosedur-prosedur; proses-proses dan sumber-sumber daya untuk penerapan manajemen mutu (Gasperst: 2003). Suatu sistem manajemen mutu merupakan sekumpulan prosedur terdokumentasi dan praktik-praktik standar untuk manajemen sistem yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu proses dan produk terhadap kebutuhan atau persyaratan tertentu. Kebutuhan atau persyaratan itu ditentukan atau dispesifikasikan oleh pelanggan dan organisasi. Sistem manajemen mutu mendefinisikan bagaimana organisasi menerapkan praktik manajemen mutu secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan pasar. Terdapat beberapa karakteristik umum dari sistem manajemen mutu:

1). Sistem manajemen mutu mencakup suatu lingkup yang luas dari aktivitasaktivitas dalam organisasi moderen. Mutu dapat didefinisikan melalui lima pendekatan utama: a. transcendent quality, yaitu suatu kondisi ideal menuju keunggulan;

b. product-based quality, yaitu suatu atribut produk yang memenuhi mutu;

c. user-based quality, yaitu kesesuaian atau ketepatan dalam penggunaan produk;

d. manufacturing-based quality, yaitu kesesuaian terhadap persyaratan-persyaratan standar, dan

e. value-based quality, yaitu derajat keunggulan pada tingkat harga yang kompetitif.

2). Sistem manajemen mutu berfokus pada konsistensi dari proses kerja. Hal ini sering mencakup beberapa tingkat dokumentasi terhadap standar-standar kerja.

3). Sistem manajemen mutu berlandaskan pada pencegahan kesalahan sehingga bersifat proaktif, bukan pada deteksi kesalahan yang bersifat reaktif. Patut diakui pula bahwa banyak sistem manajemen mutu tidak akan efektif 100% pada pencegahan semata, sehingga sistem manajemen mutu juga harus berlandaskan pada tindakan korektif terhadap masalah-masalah yang ditemukan. Dalam kaitan dengan hal ini, sistem manajemen mutu merupakan suatu closed loop system yang mencakup deteksi, umpan balik dan koreksi. Bagaimanapun proporsi yang terbesar (lebih dari 85%) harus diarahkan pada pencegahan kesalahan sejak tahap awal.

4). Sistem manajemen mutu mencakup elemen-elemen: tujuan (objectives), pelanggan (costumers), hasil-hasil (out-put), pemasok (suppliers) dan pengukuran untuk umpan balik (measurements for feedback and feedforward).

3. Manfaat Penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000

Manfaat dari penerapan ISO 9001:2000 telah diperoleh banyak perusahaan. Beberapa manfaat dapat dicatat sebagai berikut:

a. Meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan melalui jaminan mutu yang terorganisir dan sistematik. Proses dokumentasi dalam ISO 9001:2000 menunjukkan bahwa kebijakan, prosedur dan instruksi yang berkaitan dengan mutu telah direncanakan dengan baik.

b. Perusahaan yang telah bersertifikat ISO 9001:2000 diizinkan untuk mengiklankan pada media massa bahwa sistem manajemen mutu dari perusahaan itu telah diakui secara internasional. Hal ini berarti meningkatkan image perusahaan serta daya saing dalam memasuki pasar global.

c. Audit sistem manajemen mutu dari perusahaan yang telah memperoleh sertifikat ISO 9001:2000 dilakukan secara periodik oleh registrar dari lembaga registrasi, sehingga pelanggan tidak perlu melakukan audit sistem mutu. Hal ini akan menghemat biaya dan mengurangi duplikasi audit.

d. Perusahaan yang telah memperoleh sertifikat ISO 9001:2000 secara otomatis terdaftar pada lembaga registrasi, sehingga apabila pelanggan potensial ingin mencari pemasok bersertifikat ISO 9001:2000, akan menghubungi lembaga registrasi. Jika nama perusahaan itu telah terdaftar pada lembaga registrasi bertaraf internasional, maka hal itu berarti terbuka kesempatan pasar baru.

e. Meningkatkan mutu dan produktivitas dari manajemen melalui kerjasama dan komunikasi yang lebih baik, sistem pengendalian yang konsisten serta pengurangan dan pencegahan pemborosan. Meningkatkan kesadaran mutu dalam perusahaan.

f. Memberikan pelatihan secara sistematik kepada seluruh karyawan dan manajer organisasi melalui prosedur-prosedur dan instruksi-instruksi yang terdefinisi secara baik.

g. Terjadi perubahan positif dalam hal kultur mutu dari anggota organisasi, karena manajemen dan karyawan terdorong untuk mempertahankan sertifikasi ISO 9001:2000 yang umumnya hanya berlaku selama tiga tahun.

4. Persyaratan Standar dari Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000

Karena sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 merupakan sistem manajemen mutu yang berfokus pada proses dan pelanggan, maka pemahaman terhadap persyaratan-persyaratan dari ISO 9001:2000 ini akan membantu organisasi dalam menetapkan dan mengembangkan sistem manajemen mutu secara sistematik untuk memenuhi kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dan peningkatan proses terus-menerus (continious process impovement). Berikut klausul-klausul yang perlu diperhatikan oleh manajemen organisasi (Gaspersz: 2003):

  1. a.      Klausul 1. Ruang Lingkup

Ruang lingkup ISO 9001: 2000 telah dikembangkan atau diperluas. Dalam hal ini persyaratan-persyaratan standar telah menekankan untuk memenuhi kepuasan pelanggan melalui efektivitas dari aplikasi sistem mutu, termasuk proses-proses untuk meningkatkan terus-menerus dan jaminan kesesuaian.

  1. b.      Klausul 2. Referensi Normatif

Klausul ini hanya memuat referensi-referensi dari ISO 9001:2000.

  1. c.       Klausul 3. Istilah dan Definisi

Klausul ini menyatakan bahwa istilah dan definisi-definisi yang diberikan dalam ISO 9000:2000 (Quality Management System Fundamental and Vocabulary).

  1. d.      Klausul 4. Sistem Manajemen Mutu

Klausul ini lebih menekankan pada kebutuhan untuk peningkatan terus-menerus (continual improvement). Manajemen organisasi harus menetapkan langkah-langkah untuk implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2000.

  1. e.       Klausul 5. Tanggung Jawab Manajemen

Klausul ini menekankan pada komitmen dari manajemen puncak menuju perkembangan dan peningkatan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000. Klausul ini juga .memaksa keterlibatan manajemen puncak dengan kebutuhan-kebutuhan pelanggan, menetapkan kebijakan untuk mutu, menetapkan tujuan-tujuan mutu, perencanaan sistem manajemen mutu, menetapkan tanggung jawab dan wewenang organisasi, mengangkat secara formal seorang yang mewakili manajemen dan menjamin proses komunikasi internal yang tepat, serta harus melakukan peninjauan ulang sistem manajemen mutu.

  1. f.       Klausul 6. Manajemen Sumber Daya Manusia

Klausal ini menyatakan bahwa suatu organisasi hasus menetapkan dan memberikan sumber-sumber daya yang diperlukan secara tepat, personel yang bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas harus didefinisikan dalam sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 serta memiliki kompetensi yang berkaitan dengan pendidikan yang relevan,  pelatihan, keterampilan dan pengalaman.

  1. g.      Klausul 7. Realisasi Produk

Klausul ini menyatakan bahwa organisasi harus menjamin bahwa proses realisasi produk berada di bawah pengendalian agar memenuhi persyaratan produk.

  1. h.      Klausul 8. Pengukuran, Analisis dan Peningkatan

Menurut klausul ini organisasi harus menetapkan rencana-rencana dan menerapkan proses-proses pengukuran, pemantauan, analisis dan peningkatan yang diperlukan agar menjamin kesesuaian dari produk, menjamin kesesuaian dari sistem manajemen mutu dan meningkatkan

terus-menerus efektivitas dari sistem manajemen mutu.

 

 

2.2. Konsep Puskesmas

a. Pengertian Puskesmas

Puskesmas adalah pusat pengembangan pembinaan, dan pelayanan sekaligus merupakan pos pelayanan terdepan dalam pelayanan pembangunan kesehatan masyarakat yang menyelenggarakan kegiatannya secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan pada masyarakat yang bertempat tinggal dalam wilayah tertentu (Depkes RI, 2001).

b. Kedudukan dan fungsi Puskesmas

1). Kedudukan

a. Kedudukan dalam bidang administrasi, Puskesmas merupakan perangkat Pemda/Kota dan tanggung jawab langsung baik secara teknis medis maupun secara administratif kepada dinas kesehatan kota.

b. Dalam hirarki pelayanan kesehatan, seseuai SKN maka Puskesmas berkedudukan pada tingkat fasilitas kesehatan pertama.

2). Fungsi

a. Sebagai pusat pengembangan kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.

b. Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat.

c. Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh kepada msayarakat di wilayah kerjanya.

 

 

 

2). Fungsi

a. Sebagai pusat pengembangan kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.

c. Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh kepada msayarakat di wilayah kerjanya. Untuk melakukan fungsi tersebut Puskesmas melakukan kegiatan:

a. Perencanaan program kesehatan di wilahnya.

b. Pergerakan pelaksanaan kegiatan.

c. Pengawasan, pengendalian dan penelitian kegiatan.

2). Upaya pelayanan kesehatan Puskesmas

Dalam SKN disebutkan bahwa upaya pelayanan kesehatan dilaksanakan dan dikembangkan berdasarkan suatu bentuk atau pola upaya pelayanan kesehatan Puskesmas, peran serta masyarakat dan rujukan upaya kesehatan. Pelayanan kesehatan melalui Puskesmas di kecamatan merupakan upaya menyeluruh dan terpadu, yang paling dekat dengan masyarakat, pengembangan pemulihan. Pembinaan, pengembangan dengan pelayanan Puskesmas diselenggarakan melalui 18 kegiatan kelompok.

Adapun program kesehatan dasar adalah minimal yang harus dilaksanakan setiap Puskesmas yang berkemas dalam Basic six yaitu :

a. Promosi Kesehatan (Promkes)

b. Kesehatan lingkungan (Kesling)

c. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) termasuk KB

d. Perbaikan Gizi

e. Pemberantasan penyakit menular (P2M)

f. Pengobatan

3). Stratifikasi Puskesmas

Stratifikasi Puskesmas adalah upaya untuk melaksanakan penilaian prestasi kerja Puskesmas, dalam rangka perkembangan fungsi 34 Puskesmas, sehingga pembinaan dalam rangka perkembangan fungsi Puskesmas dapat dilaksanakan lebih terarah. Hal ini dapat menimbulkan gairah kerja, rasa tanggung jawab dan kreatifitas kerja yang dinamis melalui perkembangan falsafah mawas diri. Ruang lingkup stratifikasi Puskesmas dikelompokkan dalam empat aspek yaitu:

  1. Hasil kegiatan Puskesmas dalam bentuk cakupan masing-masing kegiatan
  2. Hasil dan cara pelaksanaan manajemen kesehatan d.
  3. Sumber daya yang tersedia di Puskesmas

Keadaan lingkungan yang mempengaruhi pencapaian hasil kegiatan Puskesmas.

 

2.3. Kualitas Pelayanan

1. Pengertian Pelayanan

Pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang bersifat kasat mata (tidak dapat diraba) yang terjadi akibat adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk memecahkan permasalahan konsumen/pelanggan (Ratminto dan Atik, 2005:2).

Sedangkan menurut Simamora (2001:172) menyatakan bahwa pelayanan adalah setiap kegiatan atau manfaat yang ditawarkan suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.

2. Pengertian Kualitas Pelayanan

Menurut Goetsh dan Davis (dalam Tjiptono, 2005:51) Kualitas adalah kondisi yang berhubungan dengan produk atau jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau memiliki harapan. Menurut American Society for Quality Control (dalam Lupiyoadi, 2001:144) Kualitas adalah “keseluruhan ciri-ciri dan karakteristik-karakteristik dari suatu produk/jasa dalam hal kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang telah ditentukan atau bersifat laten”.

Konsep kualitas pelayanan pada dasarnya bersifat relatif yaitu tergantung dari perspektif yang digunakan untuk menentukan ciri-ciri dan spesifikasi. Pada dasarnya terdapat tiga orientasi kualitas pelayanan yang seharusnya konsisten satu sama lainnya, yaitu: persepsi pelanggan, produk dan pelayanan, dan proses. Ketiga orientasi ini dapat dibedakan dengan jelas bahkan produknya adalah proses itu sendiri (Lupiyoadi, 2001:144).

Menurut Parasuraman (dalam Lupiyoadi, 2001:148) ada 5 dimensi dalam menentukan kualitas pelayanan yaitu:

a.  Tangibles, atau bukti fisik yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan dan keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa meliputi fasilitas fisik (gedung, gudang, dan lain sebagainya), perlengkapan dan peralatan yang dipergunakan (teknologi) serta penampilan pegawainya.

b.  Reliability, atau kehandalan yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya. Kinerja harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti ketepatan waktu. Pelayanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap yang simpatik, dan akurasi yang tinggi.

c. Responsiveness, atau ketanggapan yaitu suatu kemauan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat (responsif) dan tepat kepada pelanggan, dengan menyampaikan informasi yang jelas. Membiarkan konsumen menunggu tanpa adanya suatu alasan yang jelas menyebabkan persepsi yang negatif dalam kualitas pelayanan.

d. Assurance atau jaminan dan kepastian yaitu pengetahuan, kesopansantunan, dan kemampuan para pegawai perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya pelanggan kepada perusahaan. Terdiri dari beberapa komponen antara lain komunikasi, kredibilitas, keamanan, kompetensi dan sopan santun.

e. Empathy, yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada pelanggan dengan berupaya memahami keinginan konsumen. Dimana suatu perusahaan diharapkan memiliki pengertian dan pengetahuan tentang pelanggan secara spesifik, serta memiliki waktu pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan.

 

 

3. Sifat dan Klasifikasi Pelayanan

Penawaran suatu perusahaan pada pasar biasanya mencakup beberapa jenis pelayanan. Komponen pelayanan ini dapat merupakan bagian terkecil atau bagian utama dari keseluruhan penawaran tersebut. Penawaran bisa saja murni berupa barang pada satu sisi dan layanan murni pada sisi lainnya. Oleh karena itu, maka penawaran suatu perusahaan dapat diklasifikasikan menjadi lima kategori menurut Simamora (2001:172) yaitu:

a. Produk berwujud murni

Penawaran semata-mata hanya terdiri dari produk fisik misalnya sabun mandi, pasta gigi, atau sabun cuci tanpa pelayanan lainnnya yang menyertai produk tersebut.

b. Produk berwujud disertai dengan layanan pendukung

Pada kategori ini penawaran terdiri dari suatu produk fisik yang disertai dengan satu atau beberapa layanan untuk meningkatkan daya tarik kepada konsumennya. Disini pelayanan didefinisikan sebagai kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk pelanggan yang telah membeli produknya. Misalnya seperti seseorang yang baru membeli sepeda motor Honda, maka konsumen tersebut akan diberi pelayanan service sepeda motor gratis untuk beberapa bulan.

c. Hybrid

Penawaran yang terdiri dari barang dan layanan dengan proporsi yang sama.

  1. Pelayanan utama yang disertai barang dan layanan tambahan (pelengkap) dan barang-barang pendukung lainnya.

e.   Pelayanan murni

Penawaran seluruhnya berupa layanan seperti konsultan psikologi.

4. Karakteristik Pelayanan

Ada beberapa karakteristik yang dimiliki oleh pelayanan menurut Zemke (dalam Ratminko dan Atik, 2005:3) yaitu:

a. Konsumen memiliki kenangan atau memori atas pengalaman menerima pelayanan, yang tidak bisa dijual atau diberikan kepada orang lain.

b. Tujuan penyelenggaraan pelayanan adalah keunikan, setiap konsumen dan setiap kontak adalah dianggap sesuatu yang “spesial”.

c. Suatu pelayanan terjadi pada saat tertentu, ini tidak dapat disimpan di gudang atau dikirimkan barang contohnya.

d. Konsumen melakukan control kualitas dengan cara membandingkan harapan dan pengalaman yang diperolehnya.

e. Jika terjadi kesalahan, satu-satunya cara yang bisa dilakukan oleh karyawan untuk memperbaiki adalah meminta maaf.

f. Moral karyawan sangat menentukan untuk kelancaran pemberian pelayanan.

Dalam memberikan pelayanan kepada konsumen, karyawan perlu memahami faktor rasional dan emosional konsumen agar dapat memberikan kepuasan. Dalam hal ini, beberapa aspek yang perlu dicermati dari konsumen adalah karyawan menurut Tjiptono (2005:117):

a. Suasana lingkungan yang bisa membuat konsumen nyaman dan senang.

b. Pelatihan dan pengembangan serta pemberdayaan karyawan agar dapat memahami dan menangani respon emosional pelanggan.

c. Sistem penanganan keluhan yang responsif, empatik, fair, dan efektif.

d. Menggunakan pendekatan komunikasi berbeda untuk kategori individu yang berlainan.

e. Menawarkan nilai sosial dan emosional tertentu.

f. Mendirikan kelompok konsumen eksklusif yang mengelola aktivitas khusus.

g. Menerapkan pengalaman untuk menciptakan kegembiraan kepada konsumen.

2.4. Penelitian Terdahulu

Rachman (2008) melakukan penelitian tentang “Analisis Penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 dalam Menunjang Total Quality Management (TQM) pada Divisi INFRATEL di PT Telkom Tbk Jakarta”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 pada Divisi INFRATEL di PT. TELKOM, hambatan-hambatan dalam pelaksanaan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 pada Divisi INFRATEL, dan penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 dalam menunjang Total Quality Management pada Divisi INFRATEL. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melalui observasi, wawancara dan studi kepustakaan. Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 pada Divisi INFRATEL berkaitan dengan prosedur kerja dan kesalahan yang berulang-ulang pada sistem dokumentasi. Divisi INFRATEL menggunakan sistem TELKOM – Quality Management System (T-QMS) untuk mencapai sasaran mutu. T-QMS merupakan hasil pengembangan Total Quality Management (TQM) yang dimaksudkan untuk mendorong organisasi melakukan analisis persyaratan pelanggan, menetapkan proses-proses yang tepat dan dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian suatu produk/ jasa yang dapat diterima oleh pelanggan, kemudian secara konsisten mengendalikan setiap prosesnya kearah pencapaian siklus waktu proses yang lebih cepat, optimal dan efisien. Dengan melaksanakan persyaratan-persyaratan yang ada di dalam ISO 9001:2000 maka T-QMS dapat tercapai.Dharma (2007) melakukan penelitian tentang “Analisis Pengaruh Penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 terhadap Peningkatan Kinerja pada PT Jasa Raharja (Persero) Cabang Sumatera Utara”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 terhadap kinerja karyawan di PT Asuransi Jasa Raharja Cabang Sumatera Utara. Penelitian ini adalah merupakan penelitian Survey. Penelitian Survey adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dengan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara simultan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 berpengaruh positif dan sangat signifikan terhadap kinerja karyawan PT. Asuransi Jasa Raharja Cabang Sumatera Utara pada tingkat kepercayaan 95% (α=5%). Hal ini berarti setiap kebijakan yang dilakukan perusahaan telah sesuai dengan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000. Secara parsial variabel variabel sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 yang mempengaruhi kinerja karyawan PT. Asuransi Jasa Raharja Cabang Sumatera Utara berpengaruh postif dan signifikan terhadap kinerja karyawan.

2.5. Kerangka Konseptual

Menurut American Society for Quality Control (dalam Lupiyoadi, 2001:144) Kualitas adalah “keseluruhan ciri-ciri dan karakteristik-karakteristik dari suatu produk/jasa dalam hal kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang telah ditentukan atau bersifat laten”.Konsep kualitas pelayanan pada dasarnya bersifat relatif yaitu tergantung dari perspektif yang digunakan untuk menentukan ciri-ciri dan spesifikasi. Pada dasarnya terdapat tiga orientasi kualitas pelayanan yang seharusnya konsisten satu sama lainnya, yaitu: persepsi pelanggan, produk dan pelayanan, dan proses. Ketiga orientasi ini dapat dibedakan dengan jelas bahkan produknya adalah proses itu sendiri (Lupiyoadi, 2001:144).

ISO 9001:2000 adalah suatu standar internasional untuk sistem manajemen mutu (Gasperst, 2003). ISO 9001:2000 menetapkan persyaratan-persyaratan dan rekomendasi untuk desain dan penilaian dari suatu sistem manajemen mutu, yang bertujuan untuk menjamin bahwa organisasi akan memberikan produk (barang atau jasa) yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Persyaratan-persyaratan yang ditetapkan ini dapat merupakan kebutuhan dari pasar tertentu, sebagaimana ditentukan oleh organisasi.

Adapun kerangka konseptual penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

2.6. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah “ Uji coba implementasi ISO 9001:2000 berpengaruh terhadap peningkatan kualitas layanan Puskesmas Kampung Delima”

 

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan oktober  2012 di Puskesmas Kampung Delima.

3.2. Tipe dan Dasar Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kuantitatif dimana dalam penelitian ini dilakukan hanya bersifat deskriptif yang memberikan gambaran tentang permasalahan yang akan diteliti dalam bentuk angka-angka. Pendekatan ini digunakan karena sesuai dengan objek dan pokok permasalahan yang akan diteliti yang memerlukan suatu pengamatan dan pemahaman yang cermat dan seksama terhadap objek peneliti.

3.3. Unit Analisis

Unit analisis penelitian ini adalah “organisasi”. Penetuan unit analisis ini didasarkan pada pertimbangan bahwa objek penelitian adalah kinerja pelayanan yang dilakukan di Puskesmas Kampung Delima Kabupaten Rejang Lebong

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1.  Observasi (pengamatan)

Yaitu pengamatan secara langsung yang dilakukan penulis terhadap objekpenelitian guna memperoleh bahan dan data yang diperlukan.

 

2. Interview (wawancara)

Yaitu dengan mengadakan wawancara dengan beberapa responden yang berkaitan dengan penelitian.

3.  Pengambilan data langsung

3.5 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan sebagai berikut :

a. Data kuantitatif

Yaitu data yang diperoleh dalam bentuk angka yang dapat dihitung, diperoleh dari pengumpulan data, yang berhubungan dengan masalah yang dibahas.

b. Data Kualitatif

Yaitu data yang diperoleh dalam bentuk informasi baik lisan maupun tulisan yang berguna bagi penulis dalam menganalisis pembahasan masalah dalam penelitian ini.

Sumber data yang digunakan sebagai berikut:

a). Data Primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari para responden (pasien yang berobat).

b). Data Sekunder, yaitu data pendukung data yang diperoleh dari literature-literatur dan dokumen-dokumen serta laporan-laporan yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti.

3.6  Populasi dan Sampel

1. Populasi

Menurut Sugiyono (2004:55) “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

2. Sampel

Sampel menurut Sugiono (2007: 91) adalah : “Bagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.Sampel dalam penelitian ditentukan berdasarkan rumus Slovin dikutip oleh Husein Umar ( 2005:108 ) adalah sebagai berikut :

3.7. Defenisi Operasional

Menurut Dharma (1991 : 1) “kinerja atau prestsi kerja adalah suatu yang dihasilkan atau produk atau jasa yang dihasilkan atau yang diberikan oleh seseorang atau sekelompok orang”. Ada tiga cara dalam mengukur kinerja:

a)      Kuantitas, yaitu jumlah yang harus diselesaikan atau dicapai. Pengukuran kuantitatif melibatkan perhitungan keluaran dari proses atau pelaksanaan kegiatan.

b)  Ketepatan waktu, adalah sesuai tidaknya dengan waktu yang direncanakan. Indikatornya yaitu Ketepatan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan.

3.8  Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif kuantitatif dengan metode tabel frekuensi, yaitu menganalisa data dengan cara mendiskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul dan menyajikannya dalam bentuk angka-angka tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku umum.

 

 

 

 

 

Adapun rumus yang digunakan untuk menganalisis tabel yaitu :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Puskesmas

4.1.1.VISI, MISI DAN MOTTO

VISI           : TERCIPTANYA KECAMATAN SEHAT, MENUJU TERWUJUDNYA INDONESIA SEHAT

MISI

  1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan diwilayah kerja
  2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah kerja.
  3. Memelihara, meningkatkan mutu, pemerataan keterjangkauan pelayanan kesehatan.
  4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya.

 

MOTTO : KESEMBUHAN DAN KEPUASAN PASIEN ADALAH UTAMA KAMI

4.1.2        SITUASI KEADAAN UMUM DAN LINGKUNGAN

1)      Demografi

Puskesmas Kampung Delima terletak dalam wilayah kecamatan Curup Timur dengan luas wilayah kerja sekitar 15,97 Km2 merupakan daerah dataran tinggi dan berbatasan langsung dengan wilayah kerja Puskesmas Tunas harapan, Puskesmas Curup, Puskesmas Perumnas dan Puskesmas Curup Timur .

2)      Kependudukan

Jumlah penduduk wilayah kerja Puskesmas Kampung Delima menurut sensus penduduk terakhir adalah 11.584 jiwa dengan 2995 KK dimana terdapat 2042 jiwa yang termasuk dalam KK miskin yang terbagi dari 2035 jiwa program Jamkesmas dan 7 jiwa termasuk dalam program jamkseda.

Wilayah kerja dalam Puskesmas Kampung Delima meliputi 7 desa dan 1 kelurahan yaitu : Desa Kampung Delima, Desa Seguring, Desa Tanjung Beringin, Desa Tasik Malaya, Desa Kota Pagu, Desa Kesambe Lama, Desa Duku Ilir, dan Kelurahan Karang Anyar. Dari seluruh wilayah kerja Puskesmas Kampung Delima tidak terdapat desa tertinggal dan desa terpencil

3)      Sosial Ekonomi

Tingkat sosial ekonomi masyarakat wilayah Puskesmas Kampung Delima sebagian besar mata pencahariannya adalah sebagai Petani, sisanya sebagai pegawai negeri dan swasta, buruh, dagang dan lainnya. Sedangkan tingkat pendidikan sebagian besar penduduk adalah tamatan SMP dengan sedikit tamatan perguruan tinggi . Agama mayoritas diwilayah Puskesmas Kampung Delima adalah Islam, serta Suku yang terbesar adalah Suku Rejang dan Suku Jawa

Dengan sosial ekonomi yang rendah sangat mempengaruhi budaya masyarakat terhadap  masalah kesehatan dimana masyarakat belum menjadikan masalah kesehatan sebagai Prioritas Utama

 

4.2      Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian dapat diketahui:

  1. Apel Pagi

Selama penelitian di lakukan pada bulan oktober  apel pagidihadiri  rata-rata sebanyak 75% dari seluruh pegawai yang ada di Puskesmas Kampung Delima

  1. Lama Pelayanan di Poli Umum

Dari hasil rekapan dari kartu  control dari tanggal 4 oktober sampai 3 november 2012 Maka diperoleh rata-rata pasien sudah terlayani selama 2,6 menit

4.3      Analisa Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian dapat diketahui:

  1. Apel Pagi

Selama penelitian di lakukan pada bulan oktober  apel pagi dihadiri  rata-rata sebanyak 75% dari seluruh pegawai yang ada di Puskesmas Kampung Delima. Hal ini masih rendah jika dibandingkan dengan target yang harus dicapai yaitu rata-rata 90% dari pegawai Puskesmas Kampung Delima, berbagai kebijakan yang telah disepakati bersama yaitu adanya denda sebesar Rp 5.000 setiap hari  untuk  pegawai yang melebhi 8 kali tidak apel pagi

  1. Lama Pelayanan di Poli Umum

Dari hasil rekapan dari kartu  control dari tanggal 4 oktober sampai 3 november 2012 Maka diperoleh rata-rata pasien sudah terlayani selama 2,6 menit, hal ini sangat baik sekali karena standar menurut ISO bahwa lamanya pelayanan di Poli Umum adalah sebesar ≤ 7 menit. Banyak hal  yang mempengaruhi kecapatan dalam pelayanan di Puskesmas Kampung Delima antara lain:

1)      Pembagian tugas kepada setiap petugas yang ada di Poli Umum antara lain ada petugas anamnese, mengukur tensi pasien, menulis dalam buku register.

2)      Pelayan langsung dilaksanakan setelah apel pagi

3)      Untuk pemeriksaan dan pengopbatan dilakukan oleh dokter, kalau tidak ada dokter dilaksanakan oleh perawat senior yang ada di Puskesmas Kampung Delima

4)      Dalam pelayanan petugas lebih mengutamakan pelayanan kepada pasien dari pada membuka sms atau membuka facebook di Hp kecuali pada waktu tidak ada pasien

5)      Setiap ada pasien segera dilakukan pemeriksaan jadi tidak ada penumpukan pasien

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. KESIMPULAN
  2. Apel pagi selama bulan oktober rata-rata dihadiri sebanyak 75% dari seluruh petugas yang ada di Puskesmas Kampung Delima
  3. Lamanya pelayanan kepada pasien adalah rata-rata selama 2,6 menit
    1. SARAN
    2. Uji coba ISO sangat bermanfaat sekali karena akan meningkatkan pelayanan kepada pasien, maka dari itu sangat layak untuk diterapkan kepada semua puskesmas yang ada di Kabupaten Rejang Lebong
    3. Pelaksanaan Uji coba ini sangat dipengaruhi oleh Pimpinan maka dari itu komitmen pimpinan sangat diharapkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Badan Standardisasi Nasional. (2002), Sistem Management Kualitas (SNI

19-9001-2001). Tidak Diterbitkan.

 

  1.  Gasperz, Vincent. (2003), ISO 9001: 2000, Continual Quality

 Improvement. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

 

  1. Goetsch, David L dan Davis, Stanley B. (2006), Quality Management:

Introduction to Total Quality Management for Production,

Processing, and  Services. New Jersey: Pearson Prentice Hall.

 

  1. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 951/Menkes/SK/VI/2000
  2. Mitra, Amitava. (1993),. Fundamentals of Quality Control and

Improvement, New York: Macmilan Publishing Company, New

york,

 

  1.  Schlickman, Jay. (2003), ISO 9001:2000 Quality Management Sistem

 Design. Boston: Artech House, Inc..

 

  1. Sugiyono, 2007, Statistika Untuk Penelitian, Penerbit : CV Alfabeta,

Bandung

 

  1. Tenner, Arthur R. dan Irving J. Detoro, (2005), Total Quality

 Management: Three Steps To Continuous Improvement. New

Jersey: Pearson Prentice Hall.

 

  1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
  2. www.intota.com/ total+quality+control
  3.  www.iso.org
  4. www.iso-htm
  5.  www.quality-club.com
  6. www.wikipedia.com/Quality_control.htm#Total_quality_control
Jan 28, 2013 - AGAMA    No Comments

UJIAN DAN COBAAN

UJIAN DAN COBAAN
Hamba Allah swt terbagi dua golongan: ada yg sholeh ada yg tidak, Allah uji dengan nikmat yang baik-baik dan bencana yang buruk-buruk, agar mereka kembali kpd kebenaran (QS Al-Araf :168)

168. Dan kami bagi-bagi mereka di dunia Ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. dan kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).
Sungguh bila kita mau jujur orang lebih banyak gagal menghadapi ujian Allah dikala senang ketimbang dikala susah Rasulullah saw bersabda: “Demi Allah, bukan kefakiran (kemiskinan) yg Aku khawatirkan atas kalian akan tetapi aku justru khawatir kalau kemegahan dunia yg kalian dapatkan diberikan sebagaimana yg diberikan kpd orang-orang sebelum kalian akan membuat kalian bergelimang dlm kemewahan itu hingga kalian binasa, sebagaimana oleh orang-orang sebelum kalian (HR Bukhari).
menyikapi fenomena orang kaya yg tidak pandai bersyukur ” jika kita bersyukur manfaatkanlah apapun anugrah yg kita terima dari Allah swt untuk digunakan dalam mendapat keridloaanNya bukan digunakan dijalan yg dapat mengundang murkaNya” naudzubillahimindzalik..!

Jan 28, 2013 - Belajar dan Belajar    No Comments

Belajar Memposting Tulisan

Belajar menulis apa saja…..klo sudah ada tulisannya tinggal copy paste di sini dan terbitkan……untuk masuk ke dasboard…..melalui http://sudirto.rejanglebongkab.go.id/wp-admin……………………………gak pake titik kemudian masukkan nama dan sandi………klo sudah masuk….silakan klik Tulisan>Tambah baru……kemudian sterusnya baca panduannya yg sudah diunduh…..selamat bloging……